Kita
sering mendengar kata 'sukses'. Sukses selalu dikesankan sebagai sebuah
pencapaian yang indah dan menyenangkan setelah melewati segenap usaha.
Sebenarnya
apa sih sukses itu? Dan siapakah yang layak disebut sukses? Banyak orang
memandang bahwa kesuksesan itu hanya
terkait dengan kekayaan, popularitas, prestasi, jabatan dan beberapa yang
dinilai wah lainnya.
Umumnya
kita mengatakan bahwa sukses adalah "berhasil meraih pencapaian
besar". Contoh, Jika seseorang menginginkan pekerjaan yang bagus dengan
gaji yang besar. Lalu dengan segenap perjuangannya dia mampu mencapainya. Maka
dia sudah dikatakan sebagai orang yang sukses. Begitu juga dengan
pencapaian-pencapaian besar lainnya. andangan orang pada umumnya.
Dalam pandangan masyarakat tradisional, orang
yang sukses adalah orang sudah memiliki rumah bagus, punya kendaraan roda empat
dan mampu menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang kuliah.
Benarkah
semua contoh yang disebutkan diatas adalah kesuksesan? Bisakah orang mencapai
hal diatas dianggap sebagai orang yang sukses? Tergantung dengan kacamata apa
kita melihatnya. Jika dengan kacamata duniawi, maka kita sepakat mengatakan
"iya", itu adalah contoh-contoh sukses duniawi.
Namun
perlu diingat bahwa pandangan keduniaan yang materialistis tentang sukses
selalu relative. Jika anda menilai bahwa seseorang itu sudah sukses. Dimata
saya belum tentu dia dipandang sukses. Jadi pandangan yang bersifat materi akan
selalu bias.
Dunia
Adalah Keindahan Yang Menipu
Ya,
benar adanya. Bahwa dunia adalah keindahan dan kesenangan yang menipu. Banyak
orang yang tertipu oleh keindahan dan kenikmatan dunia. Mereka berjuang keras
dangan berbagai cara untuk meraih kesuksesan dunia. Mereka berfikir bahwa
kebahagiaan akan terwujud jika mereka sudah mencapai kesuksesan dunia. Mereka
beranggapan bahwa kebahagiaan itu ada pada banyaknya harta atau tingginya
jabatan.
Kalaulah
kesuksesan itu diukur dengan tingginya jabatan, maka Firaunlah orang paling
sukses. Jikalau kebahagiaan diukur dengan banyaknya harta maka Qarunlah manusia
yang paling bahagia. Namun benarkah kedua manusia ini adalah orang yang paling
bahagia dan paling sukses? Kenyataannya tidak. Alquran mencatat bahwa mereka
adalah dua manusia yang telah Allah hinakan. Kehidupan mereka berakhir dengan
sangat tragis. Firaun ditenggelamkan dengan kehinaan di laut Merah. Sementara Qarun dibenamkan Allah ke
perut bumi bersama harta kekayaannya yang selama hidupnya telah membuat dirinya
angkuh dan sombong.
Fenomena
kehinaan dalam keberlimapahan dan pencapaian duniawi akan selalu ada sepanjang zaman. Di zaman modern ini sering kita dengar
ada orang yang rumah tangganya hancur berantakan justru setelah ia kaya raya.
Betapa banyak pejabat tinggi di negeri kita menjadi nista karena terlibat
korupsi. Juga tak jarang kita mendengar anak pejabat dan konglomerat kehilangan
teladan dalam hidupnya, terlibat tindak criminal dan jadi pencandu narkoba.
Naudzu billah min dzalik.
Jadi
jelaslah bahwa pencapaian duniawi sangat-sangat tidak bisa dijadikan ukuran
kesuksesan dan kebahagiaan seseorang.
Sukses
Dalam Perspektif Alquran
Sebagai
orang yang beriman kita mesti memandang segala sesuatu dengan kacamata AlQuran
yang notabene merukan pedoman hidup kita. Hanya AlQuranlah tuntunan yang
seratus persen benar dan berlaku
sepanjang zaman hingga hari kiamat nanti. Kita kembali kepada AlQuran dalam
memahami makna sukses, ini bertujuan agar pandangan kita tentangnya tidak lagi
bias.
Bagaimanakah
Alquran bicara tentang sukses? Kata dalam bahasa Arab yang berartikan 'sukses'
adalah kata najaha – yanjahu – najaah. Tetapi Alquran tidak memakai kata najaha
atau najaah ini untuk menggambarkan dan mengungkapkan kata 'sukses'. Yang Alquran gunakan adalah 'falaah
(keberuntungan), yuflih atau muflih (beruntung). Sering juga kita temukan kata
'fauz' (kemenangan) atau 'faaza – yafuuzu' (menang). Dua kata (beruntung dan
menang) inilah yang selalu Allah gunakan dalam Alquran untuk menggungkapkan
kata 'sukses'.
Dalam
Alquran kata 'beruntung' ini sering
sekali disebutkan sebagai buah dari ketaatan atau hasil dari mengamalkan
perintah Allah dan menjauhi laranganNya.
0 comments:
Post a Comment