Tuesday, 11 February 2014

Sukses Sejati (Bagian 1)

Kita sering mendengar kata 'sukses'. Sukses selalu dikesankan sebagai sebuah pencapaian yang indah dan menyenangkan setelah melewati segenap usaha.

Sebenarnya apa sih sukses itu? Dan siapakah yang layak disebut sukses? Banyak orang memandang bahwa kesuksesan  itu hanya terkait dengan kekayaan, popularitas, prestasi, jabatan dan beberapa yang dinilai wah lainnya.

Umumnya kita mengatakan bahwa sukses adalah "berhasil meraih pencapaian besar". Contoh, Jika seseorang menginginkan pekerjaan yang bagus dengan gaji yang besar. Lalu dengan segenap perjuangannya dia mampu mencapainya. Maka dia sudah dikatakan sebagai orang yang sukses. Begitu juga dengan pencapaian-pencapaian besar lainnya. andangan orang pada umumnya.

Dalam pandangan masyarakat tradisional, orang yang sukses adalah orang sudah memiliki rumah bagus, punya kendaraan roda empat dan mampu menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang kuliah.

Benarkah semua contoh yang disebutkan diatas adalah kesuksesan? Bisakah orang mencapai hal diatas dianggap sebagai orang yang sukses? Tergantung dengan kacamata apa kita melihatnya. Jika dengan kacamata duniawi, maka kita sepakat mengatakan "iya", itu adalah contoh-contoh sukses duniawi.

Namun perlu diingat bahwa pandangan keduniaan yang materialistis tentang sukses selalu relative. Jika anda menilai bahwa seseorang itu sudah sukses. Dimata saya belum tentu dia dipandang sukses. Jadi pandangan yang bersifat materi akan selalu bias.


Dunia Adalah Keindahan Yang Menipu

Ya, benar adanya. Bahwa dunia adalah keindahan dan kesenangan yang menipu. Banyak orang yang tertipu oleh keindahan dan kenikmatan dunia. Mereka berjuang keras dangan berbagai cara untuk meraih kesuksesan dunia. Mereka berfikir bahwa kebahagiaan akan terwujud jika mereka sudah mencapai kesuksesan dunia. Mereka beranggapan bahwa kebahagiaan itu ada pada banyaknya harta atau tingginya jabatan.

Kalaulah kesuksesan itu diukur dengan tingginya jabatan, maka Firaunlah orang paling sukses. Jikalau kebahagiaan diukur dengan banyaknya harta maka Qarunlah manusia yang paling bahagia. Namun benarkah kedua manusia ini adalah orang yang paling bahagia dan paling sukses? Kenyataannya tidak. Alquran mencatat bahwa mereka adalah dua manusia yang telah Allah hinakan. Kehidupan mereka berakhir dengan sangat tragis. Firaun ditenggelamkan dengan kehinaan di laut  Merah. Sementara Qarun dibenamkan Allah ke perut bumi bersama harta kekayaannya yang selama hidupnya telah membuat dirinya angkuh dan sombong.

Fenomena kehinaan dalam keberlimapahan dan pencapaian duniawi akan selalu ada sepanjang  zaman. Di zaman modern ini sering kita dengar ada orang yang rumah tangganya hancur berantakan justru setelah ia kaya raya. Betapa banyak pejabat tinggi di negeri kita menjadi nista karena terlibat korupsi. Juga tak jarang kita mendengar anak pejabat dan konglomerat kehilangan teladan dalam hidupnya, terlibat tindak criminal dan jadi pencandu narkoba. Naudzu billah min dzalik.

Jadi jelaslah bahwa pencapaian duniawi sangat-sangat tidak bisa dijadikan ukuran kesuksesan dan kebahagiaan seseorang.

Sukses Dalam Perspektif Alquran

Sebagai orang yang beriman kita mesti memandang segala sesuatu dengan kacamata AlQuran yang notabene merukan pedoman hidup kita. Hanya AlQuranlah tuntunan yang seratus persen benar  dan berlaku sepanjang zaman hingga hari kiamat nanti. Kita kembali kepada AlQuran dalam memahami makna sukses, ini bertujuan agar pandangan kita tentangnya tidak lagi bias.

Bagaimanakah Alquran bicara tentang sukses? Kata dalam bahasa Arab yang berartikan 'sukses' adalah kata najaha – yanjahu – najaah. Tetapi Alquran tidak memakai kata najaha atau najaah ini untuk menggambarkan dan mengungkapkan kata 'sukses'.  Yang Alquran gunakan adalah 'falaah (keberuntungan), yuflih atau muflih (beruntung). Sering juga kita temukan kata 'fauz' (kemenangan) atau 'faaza – yafuuzu' (menang). Dua kata (beruntung dan menang) inilah yang selalu Allah gunakan dalam Alquran untuk menggungkapkan kata 'sukses'.


Dalam Alquran kata 'beruntung'  ini sering sekali disebutkan sebagai buah dari ketaatan atau hasil dari mengamalkan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. 
Categories:

0 comments:

Post a Comment